Na Daehoon & Julia Prastini (Jule): Jawara Esports, Skandal Selingkuh dan Perseroan Hak Asuh Anak
Pendahuluan
Penggemar dunia esports dan selebritas Tanah Air tengah di-online penuh sorak sorai sekaligus keprihatinan saat kabar perceraian antara Na Daehoon dan Julia Prastini (yang biasa disapa “Jule”) muncul ke publik. Setelah skandal perselingkuhan yang memunculkan gelombang reaksi sosial, kini Na Daehoon disebut telah mengajukan gugatan cerai—dengan satu syarat utama: hak asuh penuh atas ketiga anak mereka. Kabar ini mencetak trending dan menjadi topik hangat di jagat hiburan Indonesia.
Dalam artikel ini saya akan membedah kronologi terbaru, latar belakang rumah tangga mereka, tanggapan publik, dan pesan sosial yang bisa diambil—dengan gaya ramah, informatif, dan tetap sopan. Plus: di akhir ada area untuk pembaca berbagi pandangan mereka.
Latar Belakang Pasangan: Dari Dunia Esports ke Keluarga
Na Daehoon dikenal luas sebagai pemain esports profesional dan streamer yang cukup populer di Indonesia. Karena statusnya itu, rumah tangga dengan Jule, yang juga memiliki pengikut besar di media sosial, sempat dianggap “pasangan ideal” di ranah hiburan dan gaming.
Mereka dikaruniai tiga anak, dan semula kehidupan keluarga mereka tampak harmonis. Namun, kenyataan tak selalu sesuai ideal: pada Oktober 2025 muncul isu perselingkuhan yang melibatkan Jule dan seorang lelaki bernama Safrie Ramadhan.
Isu itu memicu tanda-tanya besar di kalangan penggemar: publik figur dengan citra “profesional di layar & ayah keluarga bahagia” diguncang oleh realita rumit kehidupan pribadi.
Skandal Perselingkuhan dan Keputusan Perceraian
Skandal perselingkuhan itu bermula ketika akun TikTok @itstanesaa dan @Hookla_87 memunculkan tangkapan layar dan komentar yang mengklaim proses perceraian akan dilakukan oleh Na Daehoon dan Jule.
Dalam komentar yang viral:
“Info dari A1 pengacara Daehoon, pihak Daehoon dan pihak Jule sudah bertemu dan sudah sepakat untuk bercerai walaupun dari awal pihak Jule enggak mau cerai, tapi akhirnya mau dan sepakat.” — akun @Hookla_87.
Yang menarik: pihak Daehoon disebut tidak menuntut harta gono-gini—melainkan hanya hak asuh penuh atas ketiga anak mereka. (“Daehoon cuma minta semua hak asuh anak-anaknya, gono gini enggak minta…”).
Situasi ini menunjukkan bahwa keputusannya lebih berpusat pada keluarga, anak-anak, dan tanggung jawab sebagai orang tua—ketimbang aspek materi.
Alasan dan Dinamika Rumah Tangga
Beberapa faktor yang muncul sebagai latar mengapa rumah tangga mereka sampai titik ini:
- Perselingkuhan Jule: Pengakuan dan bukti yang muncul ke publik ternyata menjadi tamparan keras bagi Na Daehoon dan keluarganya.
- Tekanan publik dan sorotan media sosial: sebagai figur publik, kehidupan mereka tidak lepas dari kamera, komentar, dan ekspektasi—yang bisa memunculkan stres tambahan.
- Keputusan bersama untuk bercerai meski awalnya Jule menolak: mengindikasikan bahwa situasi sudah tak bisa lagi diperbaiki dengan kompromi ringan.
- Fokus pada hak asuh anak: pilihan Na Daehoon untuk tidak menuntut harta menunjukkan bahwa elemen yang paling penting bagi dirinya adalah keluarga dan anak—yang dirasa tak bisa diabaikan.
Reaksi Publik dan Media
Reaksi masyarakat terbagi:
- Banyak yang memuji sikap Na Daehoon karena menempatkan anak di atas materi—komentar seperti “dia cuma ingin harta yang paling mahal yang tak bisa diganti dengan uang yaitu anak” bermunculan.
- Ada juga yang meragukan motivasi dan menyebut keputusan cerai ini karena “terlanjur viral”—bagaimana pun, publik figur sulit terhindar dari sorotan.
- Media hiburan menyoroti bagaimana fenomena ini menegaskan bahwa selebritas pun menghadapi konflik rumah tangga yang nyata—tidak cuma di layar kaca.
- Di ranah penggemar dan followers, muncul keraguan, keprihatinan, dukungan—dan tentu, spekulasi terhadap langkah karier kedua pihak setelah ini.
Implikasi dan Pelajaran bagi Banyak Pihak
- Bagi selebritas & pasangan publik: ini menjadi pengingat bahwa kehidupan pribadi tidak bisa hanya “iklankan kebahagiaan”—ketika masalah nyata muncul, tanggung jawab terhadap anak dan keluarga harus jadi prioritas.
- Bagi orang tua dan anak-anak pasangan selebritas: hak asuh full bukan hanya istilah hukum—melainkan urusan psikologis dan emosional yang besar bagi anak. Bagaimana mereka melihat ayah-ibu, bagaimana stabilitas rumah tangga mempengaruhi tumbuh-kembang anak.
- Bagi publik & penggemar: menyikapi berita rumah tangga selebritas dengan empati—menghindari bully atau body-shame. Karena di balik layar adalah manusia dengan perasaan, keluarga, dan anak.
- Bagi industri hiburan: konflik hidup nyata seperti ini memberi dampak reputasi, manajemen krisis, dan pentingnya pengelolaan citra jangka panjang—termasuk dukungan bagi selebritas yang mengalami krisis rumah tangga.
Apa Selanjutnya?
- Akkun resmi atau pernyataan manajemen dari Na Daehoon dan Jule hingga saat ini masih terbatas—publik dan media akan terus menunggu klarifikasi formal.
- Proses hukum cerai kemungkinan akan dimulai di Pengadilan Agama Jakarta Selatan sebagaimana info dalam unggahan viral.
- Anak-anak mereka menjadi elemen yang paling rentan—bagaimana pengaturan hak asuh, kunjungan, dan dukungan psikologis ke depan akan penting.
- Untuk karier: apakah Jule atau Daehoon akan mengambil jeda, atau melanjutkan karier dengan citra “pasca-cerai” yang baru—ini akan jadi tantangan bagi mereka dan manajemen.
Kesimpulan
Kisah Na Daehoon dan Jule mengingatkan kita bahwa rumah tangga selebritas, walau tampak glamor, punya kompleksitas yang sama dengan keluarga lain—bahkan lebih berat karena sorotan publik. Yang paling patut disorot dari kasus ini adalah komitmen Na Daehoon terhadap anak-anaknya—bahwa dalam keputusan berpisah pun, anak menjadi prioritas.
Bagi Anda pembaca yang mengikuti kisah ini: mungkin muncul rasa simpati, kecewa, atau ingin memahami lebih lanjut—silakan tinggalkan pandangan Anda di kolom komentar: Apakah Anda setuju prioritas hak asuh seperti yang dilakukan Daehoon? Apa yang menurut Anda penting dilakukan oleh pasangan yang menghadapi krisis rumah tangga di ranah publik?
Mari kita gunakan kisah ini bukan cuma sebagai gosip, tetapi bahan refleksi soal keluarga, tanggung jawab, dan bagaimana hidup di ruang publik dapat memengaruhi private life.

